Ratna Yulianingthias>

Dandelion



Dandelion’s


Yaaa... mungkin memang kau hanya sebuah tumbuhan liar yang tak pernah dipandang oleh sebagian orang. Meski tak  seharum si mawar, dan tak secantik si melati, namun aku belajar banyak arti kehidupan dari sebuah tanaman liar yang tumbuh di tepian jalan. Dia dapat hidup dimana saja, dan terus menebarkan benih yang ia titipkan bersama dengan angin yang berhembus ke seluruh penjuru kota. Walau tak pernah ada yang memperhatikannya, namun dandelion kecil tetap bisa bertahan hidup dan berubah menjadi dandelions cantik. Ia bertahan sampai siap untuk diterbangkan oleh angin yang akan membawa benihnya tumbuh ke tempat yang baru. Walau panas, hujan, tak akan membuatnya menyerah dan mati pasrah dengan keadaan.


Memang terlihat rapuh, tak sekokoh si kaktus, namun dandelions ku lebih tangguh. Yaaa dandelions kecil yang malang, dandelions kecilku sayang. Tanaman liar yang sederhana, tetapi memiliki kecantikkan yang luar biasa. Aku mendapat pelajaran dari dandelions, kita harus bisa beradaptasi dimanapun kita berada, meski banyak yang memandang remeh, banyak rintangan dalam hidup, namun kita harus tetap bertahan. Karena suatu saat akan ada keindahan dari apa yang telah kita perjuangkan. Yaaa... seperti dandelions yang akan tumbuh cantik setelah jauh diterbangkan oleh angin. Aku begitu terhipnotis dengannya, sampai ntah kapan tepatnya aku jatuh cinta pada dandelion’s akupun tak tau.
My Dandelions, simple but awesome


Sejarah Koperasi di Indonesia dan Bagaimanakah Konsep Koperasi Luar Mempengaruhi Perkoperasian di Indonesia



Sejarah Koperasi di Indonesia dan Bagaimanakah Konsep Koperasi Luar Mempengaruhi Perkoperasian di Indonesia


Nama               :  Ratna Yulianingthias
NPM/Kelas     :  17213318/2EA22
Dosen              :  Sarah Widia Rahmarini



Permasalahan            :
Awalnya koperasi didirikan dengan gagasan Robert Owen (1771-1858) yang menerapkannya pertama kali pada usaha permintaan kapas di New Lanark, Skotlandia. Pada tahun 1786-1865 gerakan koperasi ini dikembangkan lebih lanjut oleh William King dengan mendirikan toko koperasi di Brighton, Inggris. Pada 1 Mei 1828 King menerbitkan publikasi bulanan yang bernama The Cooperator, yang berisi berbagai gagasan dan saran-saran praktis tentang mengelola toko dengan menggunakan prinsip koperasi. Melalui gerakan ini akhirnya koperasi berkembang di negara-negara lainnya, seperti Indonesia.
            Di Indonesia sendiri awalnya koperasi diperkenalkan oleh R. Aria Wiriatmadja  di Purwokerto, Jawa Tengah pada tahun 1896 dengan mendirikan koperasi kredit dengan tujuan membantu rakyatnya yang terjerat hutang dengan rentenir. Dalam mendirikan koperasi tersebut beliau menggunakan uang pribadinya untuk modal koperasi. Koperasi tersebut lalu berkembang pesat dan akhirnya ditiru oleh Boedi Oetomodan SDI. Namun pada saat itu koperasi sempat mengalami kendala yang menyebabkan banyak koperasi yang berjatuhan karena tidak mendapat izin koperasi dari Belanda. Akan tetapi pada tahun 1933 koperasi menjamur kembali bersamaan dengan dikeluarkannya UU No. 431 sehinggga mematikan usaha koperasi untuk yang kedua kalinya.
            Pada tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia. Jepang lalu mendirikan koperasi kumiyai. Awalnya koperasi ini berjalan mulus, namun fungsinya berubah drastis dan menjadi alat Jepang untuk mengeruk keuntungan dan menyengsarakan rakyat. Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 12 Juli 1947, pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan Kongres Koperasi yang pertama kali di Tasikmalaya. Sejak dikenalkannya koperasi pada tahun 1896 akhirnya koperasi berkembang dari waktu ke waktu sampai sekarang.
            Perkembangan koperasi di Indonesia mengalami pasang naik dan turun dengan titik berat lingkup kegiatan usaha secara menyeluruh yang berbeda-beda dari waktu ke waktu sesuai dengan iklim lingkungannya. Jikalau pertumbuhan koperasi yang peratama kali di Indonesia menekankan pada kegiatan simpan pnjam (Soedjono 1983) maka selanjutnya tumbuh pula koperasi yang menekankan pada kegiatan penyediaan barang-barang untuk keperluan produksi. Perkembangan koperasi dari berbagai jenis kegiatan usaha tersebut selanjutnya ada kecenderungan menuju kepada suatu bentuk koperasi yang memiliki beberapa jenis kegiatan usaha. Koperasi serba usaha ini mengambil langkah-langkah kegiatan usaha yang paling mudah mereka kerjakan terlebih dulu, seperti kegiatan penyediaan barang-barang keperluan konsumsi bersama-sama dengan kegiatan simpann-pinjam dan sebagainya.
            Kemudian pada tahun 1908 Boedi Oetomo menganjurkan berdirinya koperasi untuk  keperluan rumah tangga. Demikian pula Serikat Islam yang didirikan tahun 1911 juga mengembangkan koperasi yang bergerak di bidang keperluann  sehari-hari dengan cara membuka toko-toko koperasi. Perkembangan yang pesat di bidang perkoperasian di Indonesia yang menyatu dengan kekuatan sosial dan politik menimbulkan kecurigaan Pemerintah Hindia Belanda. Oleh karenanya Pemerintah Hindia Belanda ingin mengaturnya tetapi dalam kenyataan cenderung menjadi suatu penghalang atau penghambat perkembangan koperasi.
Konsep Koperasi Barat atau luar, Koperasi merupakan  organisasi swasta, yang dibentuk secara sukarela oleh orang-orang yang mempunyai persamaan kepentingan, dengan maksud mengurusi kepentingan para anggotanya serta menciptakan keuntungan timbal balik bagi anggota koperasi  maupun perusahaan koperasi.
Unsur Positif dari  konsep ini :
         Keinginan individu dapat dipuaskan dengan cara bekerjasama antarsesama anggota, dg saling membantu dan saling menguntungkan
         Setiap individu dg tujuan yang sama dapat berpartisipasi untuk mendapatkan keuntungan dan menanggung risiko bersama
         Hasil berupa  surplus/keuntungan didistribusikan kepada anggota sesuai dengan metode yang telah disepakati
         Keuntungan yang belum didistribusikan akan dimasukkan sebagai cadangan koperasi



Analisa           :
Munculnya koperasi di Indonesia dan di negara-negara lainnya diawali  dengan gagasan Robert Owen (1771-1858) yang menerapkannya pertama kali pada usaha permintaan kapas di New Lanark, Skotlandia. Pada tahun 1786-1865 gerakan koperasi ini dikembangkan lebih lanjut oleh William King dengan mendirikan toko koperasi di Brighton, Inggris. Pada 1 Mei 1828 King menerbitkan publikasi bulanan yang bernama The Cooperator, yang berisi berbagai gagasan dan saran-saran praktis tentang mengelola toko dengan menggunakan prinsip koperasi. Melalui gerakan ini akhirnya koperasi berkembang di negara-negara lainnya, seperti Indonesia.
            Konsep koperasi luar dapat mempengaruhi perkoperasian di Indonesia , karena dalam konsep ini memiliki beberapa nilai poositif yang sejalan dengan keinginan masyarakat di Indonesia


Ringkasan      :
Koperasi pertama kali dikenalkan oleh gagasan Robert Owen (1771-1858) yang menerapkannya pertama kali pada usaha permintaan kapas di New Lanark, Skotlandia. Dan dilanjutkan oleh William King dengan mendirikan toko koperasi dan publikasi bulanan yang bejudul The Cooperator. Kemudian        di Indonesia sendiri awalnya koperasi diperkenalkan oleh R. Aria Wiriatmadja  di Purwokerto, Jawa Tengah pada tahun 1896 dengan mendirikan koperasi kredit dengan tujuan membantu rakyatnya yang terjerat hutang dengan rentenir. Namun dengan berjalannya waktu, tujuan koperasi yang pertama kali menekankan pada kegiatan simpan-pinjam kemudian melebar menjadi menekankan pada kegiatan penyediaan barang-barang untuk keperluan produksi, lalu  keperluan rumah tangga.
Konsep koperasi luar dapat mempengaruhi perkoperasian di Indonnesia karena  memiliki nilai positif seperti : Keinginan individu dapat dipuaskan dengan cara bekerjasama antarsesama anggota, setiap individu dengan tujuan yang sama dapat berpartisipasi untuk mendapatkan keuntungan dan menanggung risiko bersama, hasil berupa  surplus/keuntungan didistribusikan kepada anggota sesuai dengan metode yang telah disepakati, dan keuntungan yang belum didistribusikan akan dimasukkan sebagai cadangan koperasi. Inilah yang menyebabkan konsep koperasi luar mempengaruhi perkoperasian di Indonesia.


Sumber           :

SANGKURIANG THE LEGEND OF MOUNT TANGKUBAN PERAHU

SANGKURIANG THE LEGEND OF MOUNT TANGKUBAN PERAHU


Sangkuriang is a legend among Sundanese people, Indonesia. The legend tells about the creation of lake Bandung, Mount Tangkuban Parahu, Mount Burangrang and Mount Bukit Tunggul.
From the legend, we can determine how long the Sundanese have been living in Java island. From the legend supported by geological fact, it is predicted that the Sundanese have been living in Java island since thousand years BC.
The legend of Sangkuriang was almost certainly a story of oral tradition before being written down. The first written reference to Sangkuriang legend appeared in the Bujangga Manik manuscript written on palm leaves at the end of the 15th century or the early 16th century AD. Prince Jaya Pakuan, alias Prince Bujangga Manik or prince Ameng Layaran, visited all of the sacred Hindu sites in Java island and Bali island at the end of the 15th century AD. Using palm leaves, he described his travels in archaic Sundanese. His palm manuscript was taken to England by an Englishmen and put at the Bodleian library, Oxford, in 1627.

After a long journey, Bujangga Manik arrived in the current Bandung city area. He is the first eyewitness reported the area. Here is his report:
Leumpang aing ka baratkeun (I walked forward to the west)
datang ka Bukit Patenggeng (arriving at Mount Patenggeng)
Sakakala Sang Kuriang (where the legend of Sang Kuriang is)
Masa dek nyitu Ci tarum (in which he would dam Citarum river)
Burung tembey kasiangan (he failed because a new day came)
According to the legend, Sangkuriang had been separated from his mother, Dayang Sumbi, as a child. Yet he was destined to meet his mother again. On his way home, he stopped at a small village and met and felt in love with a beautiful girl. He didn’t realise that the village was his homeland and the beautiful girl was his own mother. They fell in love and made plans to marry.
Sangkuriang and his dog named Si Tumang
One day before the planned wedding, Dayang Sumbi saw and recognized a scar on Sangkuriang’s head. She suddenly realized that she had fallen in love with her own son who had left her twenty years previously. She was horrified and realized she could not marry her own son. She revealed the whole truth to Sangkuriang and asked him to call off the wedding. But Sangkuriang didn’t believe her and insisted on going through with the wedding. Dayang Sumbi then told Sangkuriang that she would only marry him if he could build her a great lake by filling the whole valley with water. She said he must also build a boat for them to sail in, and both of these tasks must be completed in one night. Sangkuriang accepted the challenge. With the help of some guriangs (heavenly spirits / god in ancient Sundanese belief), he dammed the Citarum river with landslides. The river’s water rose and filled the plain, transforming it into a lake. Then Sangkuriang cut down a massive tree to make a boat.

 









Dayang Sumbi
When dawn was about to break, the boat was almost complete. Dayang Sumbi realized that Sangkuriang would fulfill the conditions she had required of him. So she prayed to God to help her prevent the disgrace of a marriage between a mother and her son. With a wave of her magic shawl, Dayang Sumbi lit up the eastern horizon with flashes of light. Deceived by what looked like dawn, cocks crowed and farmers rose for a new day.
Sangkuriang thought that he had failed. In his anger, he kicked the boat that he had built and it fell, turning upside down, transformed into Mount Tangkuban Parahu (in Sundanese, “tangkuban” means “upturned” or “upside down”, and “parahu” means “boat.”) The wood left over from the boat became Mt. Burangrang and the rest of the huge tree became Mount Bukit Tunggul. The lake became Lake Bandung (lit. “dam.”)
Mount Tangkuban Parahu: Sangkuriang Legend
Centuries later, the inhabitants of Bandung city knew from traditional lore of the existence of a former Lake Bandung and the creation of Mount Tangkuban Parahu. Without a knowledge of geology, but living under the taboos of spirits, ghosts and gods, geologic facts were woven together into a tale which was understandable according to their beliefs.
Relevance with geological fact
The story is relevance with the creation of Bandung basin and Mount Tangkuban Parahu.
Recent geological investigations indicate that the oldest lake deposits has been radiometrically dated as old as 125 thousand years. The lake ceased to exist at 16000 Before present (BP).
There had been two Plinian type of eruptions of ancient Mount Sunda dated respectively at 105000 and 55000-50000 BP. The second plinian eruption has caused ancient Gunung Sunda’s caldera to collapse and create mount Tangkuban Parahu, Mount Burangrang (Mount Sunda), and Mount Bukit Tunggul.
It is more likely that the ancient Sundanese have lived in the Bandung area long before 16,000 years BP and witnessed the second Plinian eruption which wiped out settlements west of the Cikapundung river (north and northwest of Bandung) during the 55000-50000 eruption period when Mount Tangkuban Parahu was created from the remnants of ancient Mount Sunda. This era was the era of homo sapiens; they have been identified in South Australia as old as 62000 BP, while on Java the Wajak man has been dated about 50000 BP.

Ancient lake of Bandung
Sundanese philosophy of Sangkuriang
The legend of Sangkuriang contains a philosophy enlightening (Sungging Perbangkara or sun) for anyone (plant Cariang) who is still doubt of his existence and wants to search his humanity identity / spirit (Wayungyang). The result of this search will bear enlightened consciousness (nurani) as real truth (Dayang Sumbi, Rarasati). But if the search was not accompanied by carefulness and awareness (toropong or binocular), then he will be mastered by continuing anxiety (mastered by Tumang) which will bear egos, that is, the soul which has not been enlightened (Sangkuriang). When the conscience annoyed again by the anxiety (Dayang Sumbi ate the heart of the Tumang) then the real awareness will lose. The compunction of the conscience is wreaked by beating arrogance of Ego Ratio (the head of Sangkuriang is beaten). The arrogance also force the Ego Ratio to leave the conscience. And the arrogance of the Ego Ratio which despairingly seeks for science (intellectual intelligence) during its adventure in the world (eastward). At the end, the Ego Ratio returns westward consciously or unconscious seek for the conscience (the meeting of Sangkuriang and Dayang Sumbi).


Or else storys :
In the days of yore, in Tatar Parahyangan, established an empire that Masyur.
There was a king who likes to sport hunting of animals, which always accompanied by a faithful dog, named "Tumang".
           
                                                                     
At one point the King hunting deer, but had a day the results are less encouraging. Animals hunted in the forests disappeared as if swallowed by the earth. Amid the disappointment did not get a prey animal, the King startled to turn a dog loyal "Tumang" who finds a baby girl lying among the grass hedge. What a joy the King, when the discovery of a baby girl who was flawless in image, considering that the King has long craved a daughter, but has not been blessed with children. The baby girl was named Princess Dayang sumbi.


Once daughter Dayngsumbi pretty handsome as an adult spoken for a man, who later endowed a boy named Sangkuriang which also will have a penchant for hunting as well as the King. But unfortunately my husband did not live long Dayang sumbi.
One time, a very young Sangkuriang young, entered the hunt accompanied the King's pet dog who is also his mother's favorite, namely Tumang. But the day is not good cause does not obtain the results of the hunting game. Because Sangkuriang has promised to dedicate deer liver to his mother, while deer hunting does not gotten, then kill the Tumang Sangkuriang risked his mother's favorite dog and also the King to take his heart, which was dedicated to his mother.




When Dayangsumbi eventually learned that reindeer liver presented no other is his son's heart "the Tumang" her beloved dog, then became angry Dayangsumbi.Encouraged by anger, accidentally, he beat his son's head with a scoop of rice that is being held, to cause wounds that scar. Sangkuriang effort to encouraging mothers feel in vain, and felt his actions were innocent. He thought no deer liver, dog liver also be, by not thinking about the loyalty Tumang who has devoted his life to serve the employer. Sangkuriang had run away leaving the kingdom, then disappeared without a word. 
After the incident Dayangsumbi feel very sorry, every day he always prayed and pleaded with Hyang Tunggal, so he can be reunited with his son. Later this petition Fulfilled, and the generosity of the Hyang Tunggal step that the Dayangsumbi gifted youth. Syahdan Sangkuriang that continues to wander, he grew into a burly young man, very powerful especially after he had conquered the demon that magic again, that Guriang Seven.
In a time travels, Sangkuriang without realizing he returned to the kingdom where it originated. And he brings alive the story line with a daughter who was flawless in a charming beautiful nan, who is the daughter Dayangsumbi no other. Sangkuriang fell in love with the daughter, so too will be fascinated Dayangsumbi Sangkuriang gallantry and good looks, then both are intertwined relationship. Sangkuriang or Dayangsumbi time did not know that in fact both the mother and child. Sangkuriang Dayangsumbi eventually apply to become his wife spoken. Yet again the story line alive again opened the curtain closed, Dayangsumbi know that it is Sangkuriang young son, when he saw the scar Sangkuriang pat on the head, when he corrected her future husband's headband. 
After feeling confident Sangkuriang bring his son, Dayangsumbi trying to thwart the marriage with his son. To marry her, Dayangsumbi proposed two conditions to be met by the deadline Sangkuriang before dawn. The first condition, Sangkuriang should be able to make a big boat. The second condition, Sangkuriang should be able to create a lake to be used sailing boat. Sangkuriang undertakes these requirements, he worked overtime assisted by stealth wadiabalad Guriang Seven leaders to realize the request. Large wooden timber for boat and stem the Citarum river, he got from the forest on a mountain which, according to legend later given the name Mount Hill Tunggul. The twigs and leaves from trees that used the wood, he collected on a hill called Mount Burangrang. 
Meanwhile Dayangsumbi-Hyang Tunggal was begging her to help him, frustrate the purpose Sangkuriang to marry him. Sang Hyang Tunggal Dayangsumbi granted the request, before the job is complete Sangkuriang, ayamp crowing and dawn ... ....Sangkuriang anger, knowing he failed to qualify, he kicked the boat that is being made. The boat eventually fell facedown, and according to legend will be Tangkuban Mt, while the flow of Citarum River is dammed to form lakes gradually Bandung.


http://ceritarakyatnusantara.com/en/folklore/72-Sangkuriang-the-Legend-of-Mount-Tangkuban-Perahu#
RY Blog's © Copyright 2012. Tecnologia do Blogger
By Iâni Naíra